Jumat, 05 November 2010

Bagian 3


Berlatih Melawan Harimau
 Dua orang guru dan murid ini masih tetap mengobrol saling berhadapan.
 “Tidak ada serbuan musuh. Tidak juga ada orang kehilangan pekerjaan. Bahkan hari ini, di saat rakyat dipimpin oleh Sang Prabu Ratu Sakti, rakyat begitu giat bekerja,” kata Ki Darma.
 “Giat bekerja?”
 “Betul. Kaum peladang seperti tak punya waktu pulang ke rumah sebab waktu telah dihabiskan di ladang. Begitu pun pehuma hampir-hampir lupa kalau dirinya punya rumah sebab seluruh waktunya telah dihabiskan di huma. Kemudian  nelayan lebih memilih mati di tepi sungai ketimbang pulang tak membawa hasil,” kata Ki Darma lagi dengan nada berat dan sumbang.
 “Kalau begitu, itulah masa-masa kemakmuran bagi Pajajaran,” potong Ginggi memperlihatkan wajah ceria.
 Brak!
 Ki Darma malah menggebrak permukaan bale-bale sehingga kulit buah kukuk terlontar ke udara. Sebelum kulit kukuk itu jatuh ke atas bale-bale, Ginggi segera menangkapnya selagi benda itu berada di udara.
 Sambil memeluk kulit kukuk di haribaan, Ginggi menatap gurunya dengan heran.
 “Tidak makmurkah negri Pajajaran di bawah kepemimpinan Sang Prabu Ratu Sakti?” tanya Ginggi kemudian.
 “Pajajaran memang makmur.”
 “Nah? Jadi mengapa Aki musti marah?”
 “Sebab, kemakmuran nyatanya tidak menghasilkan keadilan bagi rakyat. Rakyat tak sejahtera sebab seluruh kekayaan negara diboyong ke istana!” kata Ki Darma.
 “Lho?”
 “Semua buah-buahan yang enak-enak ada di kebun istana Tajur Agung. Buah durian dibiarkan jatuh sendiri dan buah semangka dibiarkan membusuk di mana-mana. Petugas dapur istana setiap hari dimarahi karena hampir setiap hari pula bulir-bulir padi dibiarkan membusuk. Itulah saking melimpahnya kekayaan di istana,” tutur Ki Darma lagi.
 “Hanya melimpah-ruah di seputar istana saja?”
 “Ya. Dan semua hanya untuk kepentingan orang-orang istana saja. Untuk kemakmuran para bangsawan, kerabat raja dan kaumsantana saja.”

 “Kaum santana?”
 “Ya, kaum santana adalah kelompok pedagang kaya atau petugas negara termasuk kalangan perwira kerajaan…” sahut Ki Darma.
 “Jadi, rakyat sendiri dapat bagian apa?”
 “Rakyat hanya dapat kewajiban saja dan sangat sedikit bagiannya yang bernama hak.”
 “Kok bisa-bisanya begitu, ya …” Ginggi berdecak. Bukan decak kagum tapi karena tak habis mengerti.
 Ki Darma nampak menghela napas panjang.
 Prabu Ratu Sakti yang memimpin negri hari-hari belakangan ini sebenarnya punya tujuan baik. Dia ingin mengembalikan Pajajaran ke zaman keemasan seperti dialami oleh Sri Baduga Maharaja, kakek-buyutnya. Tapi untuk mengembalikan kejayaan negri butuh daya dan tenaga. Harta kekayaan yang melimpah pun amat dibutuhkan. Hanya bedanya, bila dulu kekayaan negri melimpah dihasilkan melalui perdagangan antarnegri, kini kekayaan kas negara harus dihasilkan dari keringat rakyat sendiri. Kemampuan rakyat dipompa habis,seba ditarik setinggi-tingginya.”
 “Seba?”
 “Seba adalah semacam pajak. Setiap penghasilan rakyat musti dipotong, diberikan kepada pemerintah. Pajakdasa dancalagara dilipatgandakan.”
 “Apakah itu?”
 “Dasa adalah pajak tenaga perorangan dan calagara merupakan pajak tenaga secara gotong-royong. Seluruhambarahayat Pajajaran sejak dahulu memang dikenakan pajak-pajak seperti ini. Mereka diwajibkan mengerjakan huma dan ladang milik negara atau tanah-tanah milik para bangsawan. Bisa juga mereka dikenakan pajak negara untuk bertugas mencari ikan di muara dan di laut. Bedanya, dasa dan calagara yang dikerjakan di masa-masa silam, selalu dilakukan dengan hati senang. Rakyat bekerja penuh pengabdian. Mengolah ladang dan huma sambil bersenandung, kendati keringat basah mengucur. Anak-anak pun riang-gembira ikutmarak ataumunday bersama orangtuanya …”
 “Apakah marak dan muday itu, Ki”
 “Keduanya sama-sama bekerja di muara sungai mencari ikan. Bila hasil ikan memenuhibuleng , yaitu tempat ikan dari anyaman bambu, maka mereka saling berebutan memanggulnya sambil riang-gembira. Ikan yang banyak itu, semua diserahkan kepadawadha , yaitu petugas negara dalam urusan itu. Ya, rakyat senang mengabdi kepada negara. Itu terjadi di zaman Pajajaran diperintah oleh Sang Prabu Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi …” kata Ki Darma matanya menatap nanar ke taburan bintang di langit.
 Ginggi ikut merenung ketika Ki Darma seperti mengumbar lamunan.

 “Itulah sebabnya, aku selalu rewel kalau kau malas melakukan latihan …” gumam Ki Darma kemudian.
 Ginggi menatap tajam ke arah gurunya.
 “Tugasku apa, Ki?” tanyanya kemudian.
 Ki Darma kembali mengeluh pendek. Wajahnya muram semuram cahaya pelita.
 “Terlalu besar dan amat mustahil bila kau seorang diri bisa mengubah keadaan. Namun dengan punya niat suci ikut meringankan beban rakyat, hidupmu telah lebih baik ketimbang duduk berpangku tangan …”
 “Ya, apa tugasku?”
 “Banyakcutak  (camat) atau pemimpinkandagalante (wedana)di wilayah ini yang kerjanya memeras rakyat hanya karena mereka ingin dipuji atasannya. Mereka menyiksa dan memaksa, menghentak mencari jasa. Mereka tertawa bila wilayahnya dipuji sebagai penghasil seba paling baik tapi sama-sekali tak menggubris rakyat yang menjerit karena tercekik. Itulah tugasmu, Ginggi. Tidak akan seluruhnya bisa kau selesaikan. Tapi cobalah sebab mencoba jauh lebih baik ketimbang diam sama-sekali,” kata Ki Darma lagi.
 Ginggi terpekur mendengar uraian gurunya ini.
 “Aku tak tahu apa yang musti dikerjakan. Aku pun bahkan tak tahu dari mana musti mulai …” kata Ginggi berdesah.
 “Kau akan mengalami perjalanan amat panjang. Dan sebelum tiba pada perjalanan sesungguhnya, kau akan bersusah-susah di tempat ini dulu. Masih banyak yang harus kau sempurnakan di sini …”
 “Urusan kewiraan?”
 “Benar, sebab di zaman seperti ini, hanya ilmu kewiraan yang bisa digunakan dalam mempertahankan hidup,” tutur Ki Darma. (Bersambung)

<<    >>