Hari semakin kelam. Dan ketika kedua guru dan murid memasuki hutan pinus, suasana sudah benar-benar gelap. Tapi tubuh Ki Darma dengan lincahnya berjalan menyusuri jalan setapak sepertinya di tempat itu diterangi cahaya. Padahal jangankan bisa melihat sekeliling, hanya untuk melihat jari sendiri saja di depan mata, tak mungkin bisa terlihat.
Walau gelap begini, Ginggi pun bisa mengimbangi langkah gurunya. Hanya saja, dia pun bisa melangkah bukan karena punya kemampuan melihat dalam gelap seperti gurunya, melainkan karena naluri saja. Setiap malam dia diajak menyusuri jalan setapak ini di gelap malam dan Ginggi akhirnya jadi hafal betul. Bahwa kendati gelap, dia bisa menduga, sebentar lagi jalan setapak ini akan berkelok dan menaik menuju puncak gunung.
Tiba di punggung puncak, di mana ada sebuh bayangan bangunan gubuk, Ginggi mendahului gurunya dan meloncat ke bale-bale. Tiba di sana langsung menjatuhkan tubuhnya.
“Ambil air!” dengus gurunya.
Ginggi masuk ke dalam gubuk. Keluar lagi sudah menenteng tempat air dari buah kukuk kering. Tanpa lirik kiri-kanan pemuda itu sudah menotor lubang kukuk. Glek,glek,glek bunyinya.
“Sialan!” gerutu gurunya.
Mendengar gerutu gurunya ini, Ginggi menyadari kekeliruannya.
“Minumlah, Ki, airnya masih bersisa…” Ginggi menyodorkan kukuk. Tapi gurunya melengos marah.
Namun ketika Ginggi hendak menegak lagi, Ki Darma segera merebutnya.
“Sini!”
Dan Ki Darma mencoba menenteng kukuk ke atas mulutnya. Namun baru beberapa saat, air di dalam kukuk sudah kering. Digoyang-goyang beberapa kali, air tak mau keluar.
“Biar aku ambilkan di tempayan…” Ginggi mencoba bergegas.
“Tak perlu.”
“Kalau begitu, apa yang mesti aku kerjakan untuk Aki?” Ginggi berusaha menghibur.
“Bertugas kembali!”
“Walah aku musti latihan lagi”
Dan Ki Darma mengangguk.
Dia segera duduk di bale-bale.
Tegak, mematung.
Ginggi berdiri juga tegak mematung. Hanya sepasang tangannya bersilang di dada. Diterpa angin malam, rambutnya riap-riapan.
“Aku capek sekali, Ki…” katanya dingin.
“Tidak akan secapek rakyat Pajajaran menyimak tindakan rajanya …” gumam Ki Darma.
Ginggi akhirnya menghela napas. Dia pun ikut duduk bersila, berhadap-hadapan dengan gurunya.
“Setiap Aki menugasiku latihan, selalu saja bicara perihal Raja Pajajaran. Apa yang sebetulnya tengah terjadi dengannya, Ki?” Ginggi menyeka keringat di wajahnya dengan punggung tangannya.
Berbarengan dengan hembusan angin malam, Ki Darma pun menghela napas panjang.
“Coba kau nyalakan pelita di tengah ruangan,” gumam Ki Darma dengan nada datar.
Ginggi berjingkat untuk menyalakan pelita yang minyaknya diambil dari gajih kelelawar serta sumbunya dari serat nenas hutan.
Terlihat percikan api manakala sepasang batu sekepalan tangan saling dibenturkan. Percikan api itu ditampung oleh rambut-ramput pohon enau.
Remang-remang saja api pelita itu namun cukup untuk menerangi ruangan tengah gubuk.
Kedua orang itu kembali duduk bersila saling berhadapan.
“Usiamu sudah dewasa. Sejak kau kupungut di jalanan Wilayah Caringin belasan tahun silam, waktu sudah terpaut 10 tahun lamanya. Itu cukup pantas untuk mengukir sejarah hidupmu,” tutur Ki Darma.
Ginggi mengerutkan dahi. Bagian dari latihankah penuturan ini?
“Kerapkali Aki selalu mengatakan hal ini. Apakah benar-benar terjadi? Yang aku ingin percayai, bahwa Aki ini adalah orangtuaku sendiri,” tutur Ginggi.
“Dasar anak gendeng. Tapi itu juga bagus. Hanya percaya kepada sesuatu yang sudah terbukti kebenarannya memang wajar,” tutur Ki Darma tersenyum.
Ginggi masih tetap bersila.
“Nanti kau akan tahu, siapa dirimu sebenarnya bila kelak kau datangi jalan berlumpur di wilayah Caringin. Carilah sebuah tempat di mana dulu pernah terjadi pertempuran kecil tapi sempat memakan korban jiwa,” kata Ki Darma kemudian.
Ada kerutan di dahi, menandakan Ginggi tertegun mendengar berita ini.
Melihat roman wajah Ginggi, Ki Darma terkekeh-kekeh.
Ginggi menatap gurunya.
“Tapi kalau aku hanya seorang anak kecil yang ditemukan di kubangan lumpur dan Aki tak tahu siapa kedua orang tuaku, lantas bagaimana mungkin Aki tahu namaku. Siapa sih yang memberiku nama Ginggi?” tanya anak muda itu kemudian.
“Aku yang memberimu nama.”
“Aku pernah berbincang dengan penduduk di kaki gunung. Katanya Ginggi artinya jin atau iblis, yah sebangsa duruwiksa pembuat kejahatan. mengapa sih, Aki tega memberiku nama jelek seperti itu?”
“Hahaha! Betul sekali, Ginggi adalah siluman yang akrab dengan berbagai kejahatan!”
“Senangkah aku berbuat jahat?”
“Kau tanyakan sendiri pada dirimu. Sebab pada dasarnya, manusia itu hidup dibekali berbagai pilihan. Apakah kau memilih yang baik atau sebaliknya, bergantung pada pilihanmu itu. Aku pilih Ginggi sebab dunia ini tengah dipenuhi duruwiksa jahat. Manusia jadi pemakan manusia yang lainnya. Ginggi lahir di saat iri dan dengki, aniaya serta fitnah merajalela di bumi Pajajaran. Nama Ginggi akan selalu mengingatkanmu kelak, apakah akan sekalian kau ikut pula terperosok ke dalamnya ataukah akan menjadi pemberantasnya,” kata Ki Darma panjang-lebar.
“Duruwiksa? Begitu kelamkah bumi Pajajaran sehingga disenangi kaum duruwiksa?” gumam Ginggi.
Ki Darma hanya tersenyum kecut.
“Hidup memang bagaikan berputarnya roda pedati. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Pajajaran sekarang sedang berada pada bagian paling bawah. Sejak Kangjeng Prabu Sri Baduga Maharaja tidak lagi memerintah Pajajaran, hampir tak ada kebanggaan yang kita miliki lagi. Ginggi, hanya Kangjeng Prabu Sri Baduga Maharaja yang kebesarannya bisa disejajarkan dengan eyang-buyutnya, Prabu Wangi yang gugur di Bubat. Hanya Sri Baduga yang bisa memimpin negara dengan penuh kebijaksanaan. Selama 39 tahun memimpin negri, beliau telah sanggup mensejahterakan rakyat, juga mensejahterakan negri-negri lain. Beliau sanggup memantapkan kehidupan keagamaan padahal di tanah negara ini tengah berlangsung pergeseran kepercayaan. Hanya beliau yang telah sanggup membangun angkatan perang padahal tak pernah berlangsung peperangan. Kendati hubungan dengan Cirebon telah retak, namun dengan mereka tak pernah berlangsung pertempuran. Prabu Sri Baduga Maharaja adalah raja dari semua raja, harum namanya sehingga beliau pun dijuluki Prabu Siliwangi,” kata Ki Darma, matanya menerawang ke kejauhan.
“Menurunkah keelokan Kerajaan Pajajaran sesudah Sri Baduga tak berkuasa lagi?” tanya Ginggi penasaran.
“Tidak benar-benar tergelincir. Tapi penggantinya tak mampu mensejajarkan diri dengan pendahulunya.”
“Siapakah penggantinya, Aki?”
“Dialah Surawisesa, putra Sri Baduga Maharaja.”
“Bagaimana cara dia memerintah?”
“Sebenarnya dia baik, hanya sayang ambisinya tak tertahan. Dia penuh ambisi, selalu mempertahankan kehormatan dengan jalan kekerasan. Kau bayangkan Ginggi, selama 14 tahun memerintah, dia memimpin peperangan sebanyak 15 kali. Pertikaian dengan Demak, Banten dan Cirebon tak terelakan. Peperangan pun berlangsung.”
“Unggulkah Pajajaran?”
Ditanya seperti ini, Ki Darma nampak mengeluh. Tapi keluhnya tertahan di kerongkongan.
Menyakitkan.
“Permusuhan dengan Banten, Demak dan Cirebon, membuat kesedihan buat semua orang Pajajaran. Pelabuhan penting tempat perniagaan orang Pajajaran lepas sesudah Banten memisahkan diri. Pajajaran kehilangan Pelabuhan Pontang dan Cibanten. Setahun kemudian,a Pelabuhan Sunda Kalapa pun jatuh direbutnya. Semua wilayah pesisir utara bahkan dikuasai Cirebon, sehingga mulai saat itu, Pajajaran tak lagi menguasai lautan. Sunda bukan negara lautan lagi. Rakyat mencari penghidupan jauh di pedalaman dan hanya menjadi pehuma dan peladang,” tutur Ki Darma.
“Apakah kemudian Pajajaran menjadi hancur?”
“Tidak benar-benar hancur. Sebab meski sudah ada kelompok pengkhianat di tubuh Pajajaran, namun masih lebih banyak lagi para ksatria Pajajaran yang berani bertahan demi keutuhan negri. Sang Surawisesa yang putus asa digantikan oleh putranya, yaitu Prabu Ratu Dewata.”
“Bagaimana dengan yang lain?”
Ki Darma terkekeh masam.
“Entahlah. Aku sendiri bingung menyimak kehidupan ini. Usiaku 15 tahun ketika Sang Prabu Sri Baduga Maharajadiwastu (dilantik) di atas batu keramatSriman Sriwacana Palangka Raja . Aku pun menyaksikan sendiri berbagai perubahan di bumi Pajajaran, sejalan dengan berbagai macam perubahan kebijaksanaan dari para pemimpinnya. Surawisesa pandai berperang, digjaya dan penuh semangat. Namun di bawah kepemimpinannya rakyat menderita karena perang amat berkepanjangan. Limabelas kali peperangan, mengakibatkan banyak anak kehilangan ayah, istri kehilangan suami dan pehuma melepaskan pekerjaannya. Dan penggantinya, Sang Ratu Dewata, malah kebalikannya. Dia tak menyukai bentuk-bentuk kewiraan. Hanya agama dan filsapat saja yang diurusnya. Dia senang tapabrata dan membesarkan kehidupan keagamaan. Sarana agama berdiri di mana-mana tapi kesejahteraan lahiriah rakyatnya sendiri tak diperhatikan. Dia membutakan diri terhadap kehidupan lahiriah termasuk membutakan diri terhadap kehidupan bernegara. Karena kehidupan negara tak tersentuh, maka rakyat jadi terlantar. Pergeseran kehidupan karena hadirnya agama baru bernama Islam, jadi sumber malapetaka di Pajajaran. Dalam upaya menahan kehadiran agama baru, Sang Prabu malah memperkuat agamaKaruhun (nenek- moyang). Dan kebijakan ini malah menimbulkan berbagai pertikaian. Negara-negara kecil yang semula ada di bawah payung Pajajaran semakin banyak yang melepaskan diri dan bergabung dengan Banten atau Cirebon sebab mereka tertarik kepada agama baru. Malah lebih parah dari itu, negara-negara kecil itu berani menyerbu Pajajaran pula. Maka pada zaman Sang Prabu Dewatalah pusat-pusat keagaman seperti di Sumedanglarang, Jayagiri atau Ciranjang diserbu mereka. Sang Prabu yang katanya punya cita-cita mempertahankan agama lama yang dianutnya, dalam kenyataanya sama sekali bahkan tidak sanggup mengobarkan perlawanan. Hanya para perwira tua yang sanggup bertahan.”
“Tak ada pemimpin baru yang sempurna?”
Ditanya seperti ini, wajah Ki Darma makin muram.
“Dari semua keadaan dan peristiwa, maka pada hari-hari belakangan inilah Pajajaran semakin muram …” kata Ki Darma masih menunduk.
“Apakah semakin menyedihkan?”
“Benar-benar amat menyedihkan, Ginggi …”
“Apakah bumi Pajajaran semakin porak-poranda oleh musuh? Apakah semakin banyak anak kehilangan ayah dan kemudian banyak istri kehilangan suami?” Ginggi semakin penasaran mencecar dengan banyak pertanyaan. (Bersambung)